Benarkah perubahan selalu datang dari suara yang paling keras? Dalam keseharian, banyak orang merasa tidak cukup penting untuk terlibat dalam perubahan. Merasa bukan siapa-siapa, tidak punya kuasa, tidak punya panggung. Akhirnya, sebagian besar memilih diam, menyesuaikan diri, dan berharap keadaan membaik dengan sendirinya. Padahal, berbagai buku tentang perubahan sosial menunjukkan hal sebaliknya. Dalam Pedagogy of the Oppressed karya Paulo Freire, dijelaskan bahwa ketimpangan dan ketidakadilan justru bertahan karena mayoritas orang terbiasa diam dan menormalkan keadaan. Jika diterjemahkan ke bahasa sehari-hari: masalah besar tidak selalu dipelihara oleh niat jahat, tapi oleh kebiasaan membiarkan. Diam yang terlalu lama membuat sesuatu yang salah terasa wajar. Di titik inilah gagasan dan sikap yang sering dilekatkan pada sosok seperti Abi Kusno Nachran menjadi relevan tentang keberanian yang tenang, konsisten, dan berpijak pada kesadaran sehari-hari. Ada beberapa pokok gag...
Rasa malas bukan tanda kamu bodoh atau tidak berbakat — tapi tanda kamu kehilangan arah. Malas muncul ketika otak tidak melihat alasan yang cukup kuat untuk bergerak. Banyak orang berpikir mereka harus menunggu motivasi untuk mulai, padahal motivasi justru datang setelah kamu bergerak. Orang yang terus menunggu momen semangat akan terus tertinggal oleh mereka yang berani mulai meski belum siap. Malas bukan musuh dari produktivitas, tapi sinyal dari tubuh dan pikiranmu bahwa ada sesuatu yang salah dengan tujuan, sistem, atau caramu mengatur energi. Jika kamu bisa membaca sinyal itu dengan benar, rasa malas bisa jadi alat refleksi — bukan penghambat. Masalahnya, kebanyakan orang memilih melawan malas dengan marah pada diri sendiri, bukan dengan memperbaiki akar masalahnya. Dan di sinilah titik perubahanmu dimulai. 1. Malas muncul karena kamu kehilangan makna, bukan karena kurang motivasi. Kamu tidak akan malas kalau kamu tahu dengan jelas “mengapa” kamu melakukan sesuatu. Ket...