Langsung ke konten utama

Postingan

Featured Post

Keberanian Yang Tidak Berisik

Benarkah perubahan selalu datang dari suara yang paling keras? Dalam keseharian, banyak orang merasa tidak cukup penting untuk terlibat dalam perubahan. Merasa bukan siapa-siapa, tidak punya kuasa, tidak punya panggung. Akhirnya, sebagian besar memilih diam, menyesuaikan diri, dan berharap keadaan membaik dengan sendirinya. Padahal, berbagai buku tentang perubahan sosial menunjukkan hal sebaliknya. Dalam Pedagogy of the Oppressed karya Paulo Freire, dijelaskan bahwa ketimpangan dan ketidakadilan justru bertahan karena mayoritas orang terbiasa diam dan menormalkan keadaan. Jika diterjemahkan ke bahasa sehari-hari: masalah besar tidak selalu dipelihara oleh niat jahat, tapi oleh kebiasaan membiarkan. Diam yang terlalu lama membuat sesuatu yang salah terasa wajar. Di titik inilah gagasan dan sikap yang sering dilekatkan pada sosok seperti Abi Kusno Nachran menjadi relevan tentang keberanian yang tenang, konsisten, dan berpijak pada kesadaran sehari-hari. Ada beberapa pokok gag...
Postingan terbaru

Rasa Malas.?

Rasa malas bukan tanda kamu bodoh atau tidak berbakat — tapi tanda kamu kehilangan arah. Malas muncul ketika otak tidak melihat alasan yang cukup kuat untuk bergerak. Banyak orang berpikir mereka harus menunggu motivasi untuk mulai, padahal motivasi justru datang setelah kamu bergerak. Orang yang terus menunggu momen semangat akan terus tertinggal oleh mereka yang berani mulai meski belum siap. Malas bukan musuh dari produktivitas, tapi sinyal dari tubuh dan pikiranmu bahwa ada sesuatu yang salah dengan tujuan, sistem, atau caramu mengatur energi. Jika kamu bisa membaca sinyal itu dengan benar, rasa malas bisa jadi alat refleksi — bukan penghambat. Masalahnya, kebanyakan orang memilih melawan malas dengan marah pada diri sendiri, bukan dengan memperbaiki akar masalahnya. Dan di sinilah titik perubahanmu dimulai. 1. Malas muncul karena kamu kehilangan makna, bukan karena kurang motivasi. Kamu tidak akan malas kalau kamu tahu dengan jelas “mengapa” kamu melakukan sesuatu. Ket...

Kenyamanan adalah Candu yang Paling Halus

Kenyamanan adalah candu yang paling halus. Ia tidak membunuh dalam sekejap, tetapi perlahan membuat seseorang kehilangan daya juangnya. Banyak orang tua modern lupa bahwa kasih sayang yang berlebihan tanpa tantangan justru bisa melumpuhkan karakter anak. Fakta menariknya, studi Harvard University tahun 2021 menunjukkan bahwa anak-anak yang terlalu sering diselamatkan dari kesulitan cenderung memiliki tingkat resiliensi yang rendah saat dewasa. Artinya, semakin sedikit mereka berhadapan dengan realitas keras kehidupan, semakin rapuh daya tahannya terhadap stres dan kegagalan. Kita hidup di era di mana orang tua berlomba memberi kenyamanan, bukan ketangguhan. Dari makanan yang serba instan, sekolah dengan fasilitas lengkap, hingga sikap melindungi yang berlebihan. Namun, pendidikan sejati bukan tentang membuat hidup anak mudah, melainkan membentuk kekuatan jiwa yang tahan menghadapi kesulitan. 1. Kenyamanan yang Berlebihan Melumpuhkan Keberanian Anak yang selalu diberi jalan ...

Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. (Luk 6:20-22) Sabda bahagia adalah sabda yang revolusioner, menjungkirbalikkan pemahaman agama berabad-abad. Miskin, menderita, sedih, dikucilkan bukan karena dosa atau hukuman Tuhan. Miskin berarti tidak terobsesi dengan tawaran dunia dan mengandalkan Tuhan dalam jalani hidup sehari-hari. Menderita dan sedih mendorong kita untuk semakin dekat dan menemukan kebahagiaan hanya di dalam dan bersama-Nya. Dikucilkan, dibenci, ataupun difitnah karena berkata dan bertindak jujur, benar, baik, dan adil adalah ujud iman Kristiani yg seja...

Mengikuti-Nya, berarti juga bersedia memanggul salib bersama-Nya

Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mrk 8:32-33)  Petrus adalah kita. Menginginkan sukses di dunia, bahagia di akhirat. Menggapai kekayaan dan kepuasan serta menghindari penderitaan dan pengorbanan. Teguran Kristus pada Petrus adalah teguran pada kita. Mengikuti-Nya, berarti juga bersedia memanggul salib bersama-Nya. Berkah dalem.