Benarkah perubahan selalu datang dari suara yang paling keras? Dalam keseharian, banyak orang merasa tidak cukup penting untuk terlibat dalam perubahan. Merasa bukan siapa-siapa, tidak punya kuasa, tidak punya panggung. Akhirnya, sebagian besar memilih diam, menyesuaikan diri, dan berharap keadaan membaik dengan sendirinya.
Padahal, berbagai buku tentang perubahan sosial menunjukkan hal sebaliknya. Dalam Pedagogy of the Oppressed karya Paulo Freire, dijelaskan bahwa ketimpangan dan ketidakadilan justru bertahan karena mayoritas orang terbiasa diam dan menormalkan keadaan. Jika diterjemahkan ke bahasa sehari-hari: masalah besar tidak selalu dipelihara oleh niat jahat, tapi oleh kebiasaan membiarkan. Diam yang terlalu lama membuat sesuatu yang salah terasa wajar. Di titik inilah gagasan dan sikap yang sering dilekatkan pada sosok seperti Abi Kusno Nachran menjadi relevan tentang keberanian yang tenang, konsisten, dan berpijak pada kesadaran sehari-hari.
Ada beberapa pokok gagasan yang bisa dipetik dan direnungkan bersama. Tidak untuk menggurui, tapi untuk menemani pembaca melihat ulang posisi diri masing-masing.
Kesadaran Diri sebagai Titik Awal
Kesadaran diri sering terdengar sederhana, tetapi justru paling sulit dijalankan. Banyak orang tahu ada yang tidak beres di sekitarnya di tempat kerja, lingkungan, atau sistem yang lebih luas namun memilih fokus pada urusan sendiri. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena merasa kecil dan tidak berdaya.
Kesadaran diri berarti berhenti sejenak dan jujur pada perasaan sendiri. Misalnya, ketika merasa tidak nyaman melihat ketidakadilan kecil, seperti pembagian tugas yang selalu timpang atau suara tertentu yang selalu diabaikan. Perasaan itu sering ditekan demi menjaga suasana tetap “aman”.
Dengan menyadari perasaan tidak nyaman itu, seseorang mulai memahami batas nilai pribadinya. Kesadaran ini tidak langsung mengubah keadaan, tetapi mengubah cara memandang diri. Dari sekadar penonton menjadi individu yang sadar posisi dan tanggung jawabnya, sekecil apa pun.
Kebiasaan Diam yang Dipelajari
Diam sering kali bukan pilihan sadar, melainkan kebiasaan yang dipelajari. Sejak kecil, banyak orang diajarkan untuk tidak membantah, tidak ribut, dan tidak menonjol. Dalam jangka pendek, kebiasaan ini memang memudahkan hidup.
Namun, ketika kebiasaan diam terus dibawa ke ruang dewasa, ia berubah menjadi penghambat. Di rapat, di komunitas, bahkan di keluarga, pendapat ditahan karena takut dianggap merepotkan. Akhirnya, keputusan selalu diambil oleh yang paling berani bicara, bukan yang paling peduli.
Menyadari kebiasaan ini bukan berarti harus selalu bersuara keras. Kadang cukup dengan bertanya pelan, memberi catatan kecil, atau menyampaikan ketidaksetujuan dengan tenang. Mengubah kebiasaan diam menjadi kebiasaan sadar adalah langkah penting menuju perubahan yang sehat.
Risiko yang Sering Dibesar-besarkan
Banyak orang tidak berubah bukan karena risikonya nyata, tetapi karena risikonya dibayangkan terlalu besar. Takut dikucilkan, takut kehilangan kesempatan, takut dicap bermasalah. Padahal, dalam praktik sehari-hari, risiko itu sering lebih kecil dari yang dibayangkan.
Contohnya sederhana: menyampaikan pendapat dengan sopan di forum kerja jarang berujung pada pemecatan. Mengkritik kebijakan lingkungan RT dengan cara baik jarang berujung konflik besar. Risiko memang ada, tetapi tidak selalu fatal.
Dengan melihat risiko secara realistis, bukan emosional, keberanian menjadi lebih masuk akal. Bukan nekat, tapi terukur. Inilah cara agar perubahan tidak terasa seperti lompatan kosong, melainkan langkah yang dipikirkan.
Solusi Kecil yang Konsisten
Perubahan besar jarang lahir dari satu tindakan heroik. Ia tumbuh dari solusi kecil yang dijalankan terus-menerus. Membiasakan diskusi terbuka, membangun ruang aman untuk berbeda pendapat, atau konsisten bersikap adil dalam lingkup kecil.
Solusi kecil ini sering dianggap tidak signifikan. Namun justru di sanalah kekuatannya. Ia tidak mengancam, tidak dramatis, tapi perlahan menggeser budaya. Orang lain mulai merasa aman untuk ikut bersuara.
Dengan pendekatan ini, perubahan tidak terasa memaksa. Ia tumbuh alami, mengikuti ritme kehidupan sehari-hari. Dan yang terpenting, bisa dilakukan oleh siapa saja.
Konsistensi Tanpa Sorotan
Konsistensi sering kalah menarik dibanding gebrakan. Padahal, tanpa konsistensi, gagasan hanya berhenti sebagai niat baik. Menjaga sikap adil, jujur, dan peduli dalam jangka panjang membutuhkan energi yang tidak sedikit.
Konsistensi berarti tetap memegang nilai meski tidak dipuji, tidak dilihat, bahkan tidak dihargai. Dalam keseharian, ini bisa berarti tetap bersikap benar meski orang lain memilih jalan pintas.
Di titik inilah perubahan menjadi nyata. Bukan karena besar, tetapi karena bertahan. Konsistensi membuat nilai hidup tidak tergantung suasana atau keuntungan sesaat.
Pada akhirnya, perubahan tidak menunggu orang sempurna atau kondisi ideal. Ia lahir dari keputusan-keputusan kecil yang dikelola dengan sadar, dijalani dengan tenang, dan dijaga secara konsisten. Keberanian tidak selalu harus keras, tetapi harus jujur dan bertahan.
Jika selama ini diam terasa lebih aman, pertanyaan yang layak direnungkan sekarang adalah: sampai kapan kebiasaan itu benar-benar melindungi, dan kapan justru mulai mengikis nilai diri sendiri?
.
Di Kutip dari : Logika Filsuf
Komentar
Posting Komentar