Langsung ke konten utama

Janji Legioner Maria Indonesia

 

JANJI LEGIONER

Ya, Roh Maha Kudus, Saya ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, (Nama Calon),

Berharsat pada hari ini untuk didaftarkan sebagai legioner Maria. Namun karena insaf bahwa dari diriku sendiri, saya tak mampu mengabdi dengan pantas, Maka Saya mohon kepada-Mu untuk turun atas diriku dan memenuhi saya dengan diri-Mu, Sehingga perbuatan-perbuatanku yang tak berarti dapat ditopang oleh kekuatan-Mu dan menjadi alat bagi rencana-rencanamu yang besar.

Namun saya tahu bahwa Engkau, yang telah datang untuk memperbaharui dunia dalam Yesus Kristus, tak hendak melakukannya selain dengan perantaraan Maria; Bahwa tanpa Dia Kami tak dapat mengenal ataupun mengasihi Dikau; bahwa segala karunia, keutamaan, serta rahmat-Mu dibagikan oleh Maria kepada siapa dia berkenan, bilamana dia berkenan, dan menurut jumlah serta cara yang berkenan kepadanya. Dan saya pun sadar, bahwa rahasia pengabdian sempurna seorang legioner terletak pada persatuan yang sempurna dengan Maria yang sedemikian sempurna dipersatukan dengan Dikau.

Maka, seraya memegang Panji Legio, yang ingin menunjukkan semuanya itu di depan mata Kami, Saya berdiri di hadapan-Mu sebagai prajurit dan anak Maria, bahwa saya seluruhnya bergantung padaNya.

Dia adalah Bunda Jiwaku. Hatinya dan hatiku adalah satu, dan dari hati yang berpadu itu Ia mengulang kembali kata-katanya yang dahulu : “Sesungguhnya, aku ini hamba Tuhan”; dan sekali lagi Engkau datang kepadanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan besar.

Biarlah kuasa-Mu menaungi Saya dan memasuki jiwaku dengan nyala api dan cinta kasih, dan mempersatukannya dengan cinta kasih dan harsat Maria untuk menyelamatkan dunia; sehingga saya dapat menjadi murni dalam dia, yang diciptakan tanpa noda dosa oleh-Mu; sehingga Kristus Tuhanku, dapat tumbuh pula dalam diriku dengan pengantaraan-Mu; sehingga saya bersama dengan Maria, Bunda Kristus, dapat membawa Kristus kepada dunia dan kepada jiwa-jiwa yang memerlukan Dia; sehingga mereka bersama-sama dengan saya, setelah jaya dalam pertempuran, ikut berkuasa bersama dengan Maria untuk selama-lamanya dalam kemuliaan Tritunggal Mahakudus.

Maka, dengan penuh kepercayaan bahwa Engkau akan menerima saya dan mempergunakan saya dan mengubah kelemahanku menjadi kekuatan pada hari ini, Saya mengambil tempat dalam barisan Legio, dan memberanikan diri untuk berjanji akan mengabdi dengan setia. Dengan sepenuh hati saya akan tunduk pada tata tertib Legio, yang menyatukan saya dengan teman-teman saya seperjuangan, yang membentuk Kami menjadi satu balatentara; yang menjaga keutuhan barisan kami bila melangkah maju bersama Maria, untuk melaksanakan kehendak-Mu, untuk mengerjakan mukjizat-mukjizat rahmat-Mu yang akan memperbaharui muka bumi, dan mendirikan kerajaan-Mu di mana-mana, ya Roh Mahakudus.

Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenyamanan adalah Candu yang Paling Halus

Kenyamanan adalah candu yang paling halus. Ia tidak membunuh dalam sekejap, tetapi perlahan membuat seseorang kehilangan daya juangnya. Banyak orang tua modern lupa bahwa kasih sayang yang berlebihan tanpa tantangan justru bisa melumpuhkan karakter anak. Fakta menariknya, studi Harvard University tahun 2021 menunjukkan bahwa anak-anak yang terlalu sering diselamatkan dari kesulitan cenderung memiliki tingkat resiliensi yang rendah saat dewasa. Artinya, semakin sedikit mereka berhadapan dengan realitas keras kehidupan, semakin rapuh daya tahannya terhadap stres dan kegagalan. Kita hidup di era di mana orang tua berlomba memberi kenyamanan, bukan ketangguhan. Dari makanan yang serba instan, sekolah dengan fasilitas lengkap, hingga sikap melindungi yang berlebihan. Namun, pendidikan sejati bukan tentang membuat hidup anak mudah, melainkan membentuk kekuatan jiwa yang tahan menghadapi kesulitan. 1. Kenyamanan yang Berlebihan Melumpuhkan Keberanian Anak yang selalu diberi jalan ...

Mengikuti-Nya, berarti juga bersedia memanggul salib bersama-Nya

Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia. Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mrk 8:32-33)  Petrus adalah kita. Menginginkan sukses di dunia, bahagia di akhirat. Menggapai kekayaan dan kepuasan serta menghindari penderitaan dan pengorbanan. Teguran Kristus pada Petrus adalah teguran pada kita. Mengikuti-Nya, berarti juga bersedia memanggul salib bersama-Nya. Berkah dalem.

Tentang Intoleransi

"catatan ini adalah hasil refleksi saya setelah mengikuti agenda Youtcamp Muda Toleran yang diselenggarakan oleh Jaringan Gusdurian di Yogyakarta" Menurut saya sikap Intoleran itu tidak dapat di justifikasi hanya pada satu fihak saja, dengan menggeneralisir suatu case tertentu. Setiap orang punya potensi untuk bersikap intoleran dalam berbagai konteksnya, baik agama, suku, ras dan budaya. Sebab sikap Intoleran menurut saya, berakar pada satu sikap yaitu "Egoisme Individu" (Ilusi Keakuan) padahal pada faktanya kita sebagai manusia tidak dapat hidup tanpa adanya manusia lainnya (makhluk sosial) Maka jalan untuk meretas sikap Intoleran ini adalah dengan membuka diri; pikiran terbuka, hati terbuka dan keinginan untuk berdialog dan bergaul dengan yang berbeda. Pada titik keterbukaan itu, akhirnya kita akan bertemu dalam nilai nilai inti kehidupan kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Kemanusiaan dan Keadilan. Terimakasih untuk kesempatan belajar dan berbagi ber...