"Berbahagialah, hai kalian yang miskin, karena kalianlah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kalian yang kini kelaparan, karena kalian akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kalian yang kini menangis, karena kalian akan tertawa. Berbahagialah, bila demi Anak Manusia kalian dibenci, dikucilkan, dan dicela serta ditolak.” (Luk 6:20-26) Yesus menjungkirbalikkan pemahaman iman. Kaya, kenyang, aman, dan berkuasa bukan ujud atau keberhasilan iman, sebaliknya obsesi pada itu semua sering jadi sumber dosa dan kejahatan. Mereka yg miskin, lapar, sedih, dan terancam karena berbuat benar/adil seringkali adalah mereka yg mengandalkan Allah dari hari ke hari. Mereka mensyukuri setiap rahmat, sekecil apapun, yg diterima. Mereka adalah yg mampu membantu, berbagi, dan menghibur sesama, karena mereka juga mengalami. Berkah dalem.
Kenyamanan adalah candu yang paling halus. Ia tidak membunuh dalam sekejap, tetapi perlahan membuat seseorang kehilangan daya juangnya. Banyak orang tua modern lupa bahwa kasih sayang yang berlebihan tanpa tantangan justru bisa melumpuhkan karakter anak. Fakta menariknya, studi Harvard University tahun 2021 menunjukkan bahwa anak-anak yang terlalu sering diselamatkan dari kesulitan cenderung memiliki tingkat resiliensi yang rendah saat dewasa. Artinya, semakin sedikit mereka berhadapan dengan realitas keras kehidupan, semakin rapuh daya tahannya terhadap stres dan kegagalan. Kita hidup di era di mana orang tua berlomba memberi kenyamanan, bukan ketangguhan. Dari makanan yang serba instan, sekolah dengan fasilitas lengkap, hingga sikap melindungi yang berlebihan. Namun, pendidikan sejati bukan tentang membuat hidup anak mudah, melainkan membentuk kekuatan jiwa yang tahan menghadapi kesulitan. 1. Kenyamanan yang Berlebihan Melumpuhkan Keberanian Anak yang selalu diberi jalan ...
Komentar
Posting Komentar